Daurah Internasional ke-14 di Jeddah

Membersamai Para Penuntut Ilmu di Kota Jeddah

Jauh sebelum jadi kota metropolitan, Kota Jeddah punya cerita panjang. Sebelum Islam datang, ia hanyalah menjadi tempat transit bagi para nelayan kabilah Qudha’ah untuk beristirahat usai mencari ikan di laut. Lambat laun kota itu terus tumbuh dan bergerak. Utamanya setelah kota tersebut didirikan dan diresmikan oleh Khalifah Utsman bin Affan, sekitar tahun 648 Masehi.

Dan Jeddah terus berkembang pesat sejak saat itu. Seorang penulis Persia, Nasir Khasrow pernah mengunjungi kota tersebut pada tahun 1050 M. Ia menyebut Jeddah sebagai kota yang kuat. Dikelilingi oleh benteng-benteng yang kokoh. “Penduduknya mencapai 5.000 jiwa. Di kota tersebut belum terdapat tumbuh-tumbuhan sehingga semua kebutuhannya didatangkan dari luar,” jelas Khasrow.

Pada tahun 1517 M kota Jeddah, yang secara linguistik bermakna “nenek moyang” ini jatuh ke tangan Turki. Setelah Turki menyerah kepada Inggris (1910-1925), kota ini merupakan bagian dari kerajaan Hijaz. Selanjutnya, Jeddah berada di bawah kekuasaan Abdul Aziz Ibnu Saud dan dimasukkan ke dalam wilayah kekuasaan kerajaan Arab Saudi.

Seiring dengan modernisasi dan pembangunan yang gencar dilakukan kerajaan, wajah kota ini berubah dari wilayah yang gersang menjadi kota yang sejuk dipandang mata dan dilengkapi banyak fasilitas. Kini, Jeddah jadi kota perdagangan, juga kota diplomatik bagi kerajaan Arab Saudi. Ia jadi tempat penting diselenggarakannya sejumlah pertemuan para pemimpin dunia, termasuk pertemuan para duta besar negara-negara Islam. Sejumlah yayasan dakwah dan organisasi Islam pun sering menggelar kajian-kajian ilmu di kota ini.

Salah satunya adalah Yayasan Bayyinat pimpinan Syaikh Ahmad Bathaf. Awal tahun 2018, yayasan yang bergerak di bidang kaderisasi aktivis dakwah ini menggelar Daurah Ilmiah Internasional ke-14 di Jeddah sejak tanggal 5-18 Januari 2018. Ulama dan pakar hadits diundang untuk menjadi pembicara. Di antaranya ada nama besar seperti Syaikh Al-Allamah Abdullah bin Muhammad Al-Ghunaiman, Syaikh DR. Hasan bin Abdul Hamid Bukhori, Syaikh Hamid bin Akrom Bukhori, Syaikh Rasyid Az Zahrani, juga para masyayikh kibar lainnya.

Sekitar 150 peserta dari mancanegara turut berdatangan meramaikan acara daurah tersebut. Mereka datang dari dalam dan luar wilayah Saudi Arabia. Dari dalam wilayah Saudi, ada warga setempat, juga para mahasiswa luar negeri yang belajar di pelbagai universitas di dalam Saudi seperti King Abdul Aziz University, Jami’ah Islam Madinah (IUM), Ummul Quro Mekkah, dan lainnya. Namun, dari mahasiswa yang belajar di dalam Saudi dan ikut daurah, paling banyak datang ialah mahasiswa Jamiah Islam Madinah. Mayoritas dari mereka berasal dari Indonesia.

Kami dibuat terkejut ketika hari pertama daurah, seorang yang datang dari Sudan menodongkan pertanyaan, “Apakah Anda dari Jami’ah Islamiyah?” Kami yang belum mengetahui apa itu Jami’ah Islamiyah sempat kebingungan. Ternyata, yang dimaksud adalah Jami’ah Islamiyah Madinah atau Islamic University of Madinah. Tapi para peserta dari mancanegara itu gantian dibuat terkejut ketika mereka tahu bahwa saya dan 15 delegasi da’i dari Majelis Dakwah Islam Indonesia (MADINA). “Jadi, Anda datang jauh-jauh dari Indonesia hanya untuk daurah ini?” Kami cuma menjawab dengan senyuman “Kenapa tidak?”

Ada sekitar sepuluh orang mahasiswa asal Indonesia dari UIM yang turut mengikuti daurah di Jeddah. Mereka lah yang banyak berinteraksi dengan kami. Para pelajar itu berasal dari lintas ormas dan pondok pesantren di Indonesia. Di sini, di Saudi Arabia mereka semua berkumpul untuk satu tujuan, menuntut ilmu. Selain dari pelajar Indonesia di Saudi, banyak pula peserta daurah yang sengaja datang dari negeri yang jauh. Mereka ada yang datang dari wilayah konflik seperti Iraq, Lebanon, dan Kashmir. Juga dari India, Mesir, Sudan, Afrika, Gambia dan Amerika Serikat.

Bersama para penuntut ilmu dari sejumlah negeri-negeri Muslim ini, ada suasana kebatinan yang sulit untuk digambarkan dengan kata-kata. Kebersamaan kami adalah sebuah persaudaraan yang diikat dengan kecintaan terhadap ilmu agama. Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa ada 7 golongan yang dinaungi Allâh dalam naungan-Nya pada hari dimana tidak ada naungan kecuali naungan-Nya: salah satunya ialah orang yang saling mencintai karena Allah SWT. Mereka berkumpul karena-Nya dan berpisah pula karena-Nya. Semoga Allah SWT menjadikan kita semua golongan yang mendapatkan naungan Allah taala.

Pengalaman yang berharga juga kami alami saat melihat secara langsung akhlak para pecinta ilmu. Mereka saling memuliakan satu sama lain. Mereka saling mengingatkan sahabatnya. Dalam perkara ibadah dan mencari ilmu mereka saling berlomba-lomba untuk mendapatkan barisan terdepan. Tetapi dalam kehidupan sehari-hari mereka mengutamakan orang lain ketimbang dirinya (itsar).

Orang-orang Kurdi dari Irak menunjukkan semangat yang besar ketika belajar. Mata mereka menyala dengan terang ketika para masayikh menyampaikan ilmu. Mereka juga tak mau ketinggalan dalam merekam semua materi yang disampaikan para ulama. Sungguh indah melihat dari dekat karakter para anak cucu keturunan pembebas Al-Aqsha, Salahuddin Al-Ayyubi. Meski saat ini, secara politik, bangsa Kurdi merupakan kaum yang tidak memilik negara (stateless) dan terpencar di sejumlah negara.

Terlihat juga di mata kami kecerdasan orang-orang dari wilayah Maghrib, seperti Aljazair, Maroko dan Sudan. Kaum merekalah yang paling semangat menjawab ketika para masayikh melontarkan pertanyaan kepada para peserta daurah. Mereka sering muncul di barisan terdepan. Mereka memuliakan Islam dan Islam memuliakan mereka.

Ketika dalam hal ibadah, para penuntut ilmu ini saling berlomba-lomba, namun dalam urusan lain mereka lebih mendahulukan orang lain dari pada dirinya. Ada suatu pemandangan menarik yang kami lihat sendiri. Perlu diketahui bahwa, lokasi tempat kami menginap dan tempat daurah terletak terpisah. Selepas shalat subuh kami mengikuti kajian di sebuah ma’had di dekat Masjid Abi Dzar, yang terletak sekitar 5 kilometer dari tempat menginap. Sementara, usai shalat ashar, kami mengikuti daurah di Masjid Jami’ Firdaus di kawasan Bani Malik yang lokasinya sekitar 1 kilometer dari penginapan. Untuk pulang-pergi kami diangkut menggunakan bus kecil.

Suatu ketika, usai daurah, kami menunggu kedatangan bus untuk kembali ke tempat menginap. Bus sudah hampir penuh, dan salah seorang peserta daurah dari Lebanon naik. Beliau memiliki kulit yang putih dan bersinar tapi diuji oleh Allah SWT dengan kehilangan penglihatan. Ketika ia naik, sontak para peserta daurah berdiri untuk mempersilakan tempatnya diduduki oleh lelaki tersebut. Satu orang yang berparas India, memaksa lelaki tersebut agar ia menempati tempat duduknya, supaya dia berdiri. Yang lain juga menawarkan tapi pria berparas India itu tampak paling gigih mempersilahkan. Akhirnya lelaki Lebanon tersebut berhasil duduk sementara pria India itu berdiri dengan anggun sepanjang jalan. Sebuah pemandangan itsar yang membuat hati tergetar.

Di luar itu, dan mungkin yang paling utama, ilmu yang disampaikan oleh para masayikh di majelis memang sangat luar biasa. Ia laksana pedang yang menghujam ke dalam kalbu. Sesekali terasa sakit karena mengingatkan kita akan banyaknya ilmu yang belum diamalkan, tapi terasa nikmat dan menenangkan, membuat siapapun nyaman juga betah berlama-lama duduk di dalamnya.

Di dua pertemuan pertama, para peserta daurah diajak mengkaji matan-matan hadits dari Kitab Al-Ilmu karya Abu Khutsaimah dan Kitab Al-Iman tulisan Ibnu Abi Syaibah. Sempat terjadi diskusi di antara kami mengenai metode pengajaran para masayikh, mana yang lebih utama antara belajar dengan cara membaca matan hingga tuntas, atau memperdalam satu matan hadits kemudian berpanjang-panjang mendalami syarahnya? Di sinilah hal itu menjadi terang benderang.

Ketika seseorang belajar satu matan/masalah secara mendalam, namun tidak pernah menyelesaikan satu kitab secara keseluruhan, maka ia tidak dapat memahami apa yang ingin disampaikan para ulama secara global dan menyeluruh. Maka dari itu, dengan membaca matan hingga selesai satu kitab akan membuat para penuntut ilmu bisa memandang persoalan dengan cakupan yang lebih luas. Di samping, bahwa membahas syarah secara panjang lebar akan membutuhkan waktu yang lebih panjang.

Dalam kesempatan itu, Direktur Yayasan Bayyinat, Syaikh Ahmad Bathaf juga menekankan pentingnya seorang penuntut ilmu itu memiliki guru/masayikh. “Menuntut ilmu itu harus memiliki guru,” ujarnya dalam pembukaan daurah ilmiah ini. Apalagi, saat ini di era tekhnologi informasi banyak orang mencukupkan diri dengan Google dan informasi di internet. Mereka berguru dengan para masayikh lewat Youtube dan media sosial lalu merasa berpuas diri hanya dengan cara itu. Padahal dalam majelis ilmu itu bukan hanya ada proses transfer ilmu pengetahuan, tetapi di dalamnya juga ada transfer budi pekerti. Hal itulah yang kini mulai sulit ditemukan di kalangan para penuntut ilmu.

Sebagaimana perkataan Imam Syafii rahimahullah, dalam Kitab Faidhul Qadir: “Orang yang belajar tanpa sanad guru bagaikan orang yang mengumpulkan kayu bakar di gelapnya malam. Ia membawa pengikat kayu bakar yang terdapat di dalamnya ular berbisa dan ia tidak mengetahuinya.”


Penulis: Fajar Shadiq

Fajar Shadiq

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *