Malin Kundang di Mata Bule

Fajarshadiq.com – “Are you waiting for someone, Sir?” Di sofa paling sudut sebuah lobby hotel itu aku membuka percakapan.

“Yeah, i’m waiting my friend. He promise to pick me up at 15.00,” sahutnya. Gila memang. Etos disiplin waktu orang Barat memang luar biasa.

Aku yang juga sedang menunggu temanku di sofa itu sejak sejam lalu saja merasa sudah lama. Berarti dia sudah duduk di situ sejak pukul 13.00 siang.

Dia bilang namanya Jason. Datang dari Queensland, Australia. Ia datang bersama dua temannya untuk berselancar di atas ombak Mentawai. Orang bule punya prinsip: Work Hard, Play Hard. Jadi selama setahun bekerja mereka tabung uang hasil jerih payah mereka untuk pergi liburan selama beberapa pekan ke tempat-tempat wisata.

Tapi, Padang hanya kota transit bagi dia.

Makanya, saat kutanya apa kesannya tentang Padang, Jason tak bisa banyak menjawab. “Saya belum kemana-mana. Transportasi susah. Sementara resepsionis hotelnya kurang bagus bahasa Inggrisnya, dia tidak tahu apa yg saya inginkan.” Kasihan Jason.

“Di Padang sudah ada transportasi online seperti Uber, namanya G**eK,” kataku. “Waw, Thank u very much. It’s very helpful,” kata Jason.

Cobalah kau keliling-keliling kota. Di Padang banyak objek menarik, tambahku. Aku cerita soal keindahan Pantai Pasir Jambak dan Pantai Air Manis, juga Lembah Anai, Danau Singkarak dan Kota Bukittinggi. Aku berlagak seolah guide tour professional. Padahal ini kunjunganku ke Padang yang pertama kali.

Aku iseng nanya lagi, “Kamu kan sudah empat hari di sini, how about the hotel and the ladies?” Jason tertawa. “I am Married.” Lalu dia tunjukkan jari manisnya. Wah, bule jenis langka nih.

Dia balik bertanya, “Kok bahasa Inggrismu bagus? Apa pekerjaanmu?” Duh, ini sebetulnya pujian yg berlebihan. Padahal ane asal cablak aja. “I was studied in Boarding School,” kataku. Terjemahan bebasnya, dulu ane pernah mondok, Son. Di sana kemampuan bahasa Arab dan Inggris diajarkan very intensive. Padahal sebenernya ane mengasah kemampuan bahasa dengan cara nyolong-nyolong, ngelanggar perintah umi yang ngelarang nonton film-film Barat ampe tengah malem, sejak SD.

“Dan, sekarang aku jadi yesterday afternoon journalist.” Jason manggut-manggut. Lalu, demi melengkapi ceritaku pada Jason kutunjukkan foto-foto pantai dan perjalananku pada bule Aussie ini.

“Jason, maybe you not believe what i would tell to you. Di Padang ini ada urban legend tentang seorang anak bernama Malin Kundang. Malin is abandoned and ignored his mother, so he cursed by God to be stone,” lanjutku.

“Hah! To be what??” Dia mengkonfirmasi ulang. “Dikutuk jadi batu,” tegasku. Kuperlihatkan foto si Malin yang sedang bersujud dan membatu. Jason terpana. “Woow!” Matanya menerawang ke atas seperti berpikir lama.

“Jadi, Padang itu relijius banget yah orang-orangnya.” Simpul Jason. Makanya Son, jangan coba-coba durhaka sama ibu ya, kataku dalam hati. 

Fajar Shadiq

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *