Deradikalisasi Luwak

Fajarshadiq.com – Dulu dia kunamai Mustapa. Singkatan dari Muslim-Taat-Perwira. Tapi karena banyak yang protes akhirnya kuadakan pesta kecil-kecilan demi mengganti namanya menjadi Todi. Namanya juga pesta kecil-kecilan, yah teman-teman yang kuundang kuasa menikmati suguhan-suguhan lezat. Logikanya, karena yang berpesta luwak, makanannya pun harus serumpun. Nasi kucing.

Todi alias Mustapa merupakan luwak liar yang berasal dari wilayah Banten. Ia merupakan salahsatu dari tiga bersaudara (mungkin three musketeer). Tapi hanya dia yang tertangkap pemburu liar. Konon, salah seekor dari saudaranya ada yang albino. “Sayang gak ketangkep mas, cakep banget bulunya,” kata si pemburu kepada ku. Pikiranku lantas melayang pada sosok-sosok imut direwolves peliharaan keluarga Stark di serial ‘Game of Thrones’.

Karena dia mewarisi darah pendekar Banten, (di Banten, luwaknya juga pendekar, red). Pertama tiba di rumah, Todi sangat memperlihatkan karakter aslinya. Buas, agresif dan lincah. Kalau ada yang mendekat ke arahnya, Todi segera menyeringai. Memperlihatkan taring dan kukunya yang sengaja kubiarkan sebagaimana aslinya.

Suatu kali, pernah kucoba mengangkat Todi keluar dari kandangnya. Berbekal video tutorial dari Youtube ‘Cara Menjinakkan Luwak’ aku nekat pegang buntutnya lantas kutarik keluar kandang. Todi memberikan perlawanan keras. Badannya berbalik ke atas melawan gravitasi dan berhasil menyobek kulitku dengan taring liarnya. Sejak itu aku kapok nonton Youtube.

Karena kesibukanku sebagai pengangguran papan atas, Todi jadi sering ku tinggal. Aku menitipnya kepada kawan-kawan yang pernah kusuguhi nasi kucing itu. Mereka cukup senang membantu beri Todi makanan, meski ada yang tak senang dengan bau badannya. Kupikir ini bukan salah Todi. Toh, di Indomaret masih susah mencari deodorant khusus untuk luwak pandan.

Setelah sering kutinggal, semalam aku melihat ada perubahan pada diri Todi. Kini sifat agresifnya menurun. Jika dulu kudekatkan tanganku kepadanya, biasanya dia langsung menyeringai dan berusaha menggapaikan kukunya ke jeruji kandang. Kadang-kadang dia juga sering menggertak dengan gertakan khas luwak muda yang tak kenal rasa takut. Tapi kini, Todi jadi lebih anteng.

Temanku bilang, “Ya lama-lama akhirnya jinak juga mas!” Aku jadi berpikir dan bertanya dalam hati. Apakah luwakku sudah terderadikalisasi? Kelamaan dikurung, jauh dari habitat aslinya, jauh dari teman-teman seperjuangannya, ‘hasrat perlawanan’ Todi kian melemah. Apalagi sebagai juragan yang baik, aku memang kerap memberinya fasilitas mewah.

Misalnya saja, makanan enak berupa menu ceker ayam dan kepala ayam atau ikan. Buah-buahan segar seperti papaya, pisang, kadang melon atau mangga (sisa dari rumah) sering kusuguhkan pada Todi. Seminggu sekali setidaknya dia dimandikan pakai shower dengan fasilitas pompa air merk Shimizu yang bunyi iklannya: sedotannya kuat, tarikannya kenceng. Tak jarang kalau suhu udara lebih dingin dari biasanya aku antarkan selimut hangat buat Todi.

Menurut situs BNPT, pengertian deradikalisasi adalah (1) upaya menurunkan paham radikal dari; kecenderungan memaksakan kehendak, (2) keinginan menghakimi orang yang berbeda dengan mereka, (3) keinginan keras mengubah negara bangsa menjadi negara agama dengan menghalalkan segala macam cara, (4) kebiasaan menggunakan kekerasan dan anarkisme dalam mewujudkan keinginan.

Aku pikir Todi tak masuk golongan makhluk terderadikalisasi pada definisi kedua dan ketiga. Todi kelihatannya jenis makhluk yang inklusif. Dia tak suka menghakimi luwak lain yang kotorannya lebih buruk dari Todi. Todi juga tak ingin mengubah negara bangsa jadi negara agama. Wong, dia gak perlu paspor atau suaka dari PBB kalo mau pindah kewarganegaraan.

Barangkali, Todi bolehlah masuk pada kategori definisi deradikalisasi yang keempat. Jika dulu dia minta makan dengan cara kekerasan, mengguncang-guncang kandang dan menyeringai orang-orang yang lewat, kini Todi lebih penurut.

Mungkin Todi sadar, tuan-tuan dan majikan berkantong besar ini tak dapat dilawan. Ceker ayam, pepaya dan pisang selalu  tersedia di kandang. “Untuk apa melawan?” Tanya Todi dalam hati.

Fajar Shadiq

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *