Ajakan Abu Qutaibah

Fajarshadiq.com – Dalam sebuah perenungan pernah saya bertanya pada diri sendiri, “Apa sih susahnya berjihad dan mati syahid?”

Tinggal kalungkan AK47 seharga motor bebek matic terbaru, dan berlari menerjang peluru musuh. Happy Ending. Tapi apa semudah itu kesyahidan menjumpai kita?

Sebagai seorang wartawan ‘yesterday afternoon’ saya jadi teringat pada sebuah pertanyaan yang sulit saya jawab. Padahal, biasanya saya yang bikin orang repot dengan pertanyaan-pertanyaan yang sulit (setidaknya menurut saya).

Pertanyaan itu ditanyakan kepada saya, kurang lebih setahun yang lalu di bumi Syam. Bumi yang penuh berkah. Pria itu, sebut saja namanya Abu Qatadah, datang dari sebuah negara yang indah bernama Maladewa. Sudah setahun ia di Syam untuk berjihad. Tangannya yang sebelah kanan tak utuh lagi terkena bom pinggir jalan. Bahasa kerennya Improvised Explosive Device (IED). Kakinya pun tak bisa menopang tubuhnya dengan sempurna.

Tapi meski terlihat ringkih, sorot matanya terlihat kukuh. Ia hanya bertanya singkat, “Saudaraku, apakah kau akan tetap tinggal di sini atau kau akan kembali?”

Pertanyaan itu ia tanyakan ketika saya baru saja tiba setelah menyeberangi salahsatu perbatasan paling berbahaya sedunia.

Saya bisa membaca kemana arah pertanyaannya. Tapi saya harus menjawab jujur. “Ya, saya akan kembali ke tanah air,” jawab saya sedikit sungkan.

Belum lagi saya meneruskan kata-kata untuk memberikan alasan yang logis, Abu Qutaibah langsung menyela.”Kenapa kau datang jauh-jauh kesini untuk kembali saudaraku. Sudah tinggal saja di sini. Mari berjuang bersama kami.”

Jujur.. Saat itu saya menangis dalam hati. Saya tercekat tak mampu berkata-kata.

Saya sadar ajakan kawan dari Maladewa itu adalah ajakan yang tulus. Rakyat Suriah tengah serba kesulitan. Mereka kekurangan makanan, kekurangan air, kekurangan senjata dan yang paling penting, mereka kekurangan perhatian dari saudara mereka sesama Muslim di jagad raya.

Mungkin, bagi mereka bantuan apapun, sekecil apapun, apalagi bantuan tenaga manusia, meski manusia tak berguna macam saya sangat dibutuhkan.

Apalagi kini, setelah memasuki tahun keempat, Rakyat Suriah semakin dibuat kesulitan dengan masuknya Rusia. Di belakangnya membonceng pula milisi dan alat tempur dari Iran juga Cina. Saya sudah makin tak sanggup membayangkan penderitaan mereka.

Ajakan Abu Qatadah itu selalu menghantui pikiran saya, terutama ketika pikiran lagi stress dan merasa jauh dari muraqabatullah. “Ah daripada capek-capek mikirin tugas-tugas begini, kayaknya enakan hijrah ke Bumi Syam. Jual rumah, bikin surat wasiat, lalu tinggal menyambut peluru musuh.” Bayangan menikah dengan 72 bidadari dan segala kenikmatannya langsung merasuk ke ruang imaji.

Kemudian saya sadar, rupanya frase ‘hidup mulia atau mati syahid’ memang padanan kata yang tepat. Dan, sayangnya kebanyakan orang memilih mati syahid sebagai jalan pintas.

Daripada berepot-repot sibuk memikirkan metodologi dakwah atau strategi pemenangan umat, agaknya lebih mudah jual rumah untuk menukarnya denganĀ one way ticket ke Timur Tengah. Ironisnya, ini pula yang dijadikan narasi barat untuk menggembosi jihad. Bahwa, perang suci yang jadi pilar ajaran Islam nyatanya hanya jalan keluar bagi pelarian yang malas bekerja dan berpikir. Mohon maaf jangan ada yang tersinggung. Saya sedang membicarakan diri saya sendiri.

Fajar Shadiq

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *